Rinai hujan yang tak henti menemaniku terjaga.
Setiba pula seraut wajah baru saja melintas di batas angan.
Tergambar jelas wajah siapa itu.
Yang pendarannya menerangi tiap malam tanpa bintang.
Yang teranugerahi nada lembut pengisi kesunyian.
Yang mewakili tujuan senandung sepi ini.
Yang terindukan.
Datang untuk mengundang ragu dan pergi untuk menghapus pilu.
Itulah sifat rindu.
Walau sudah terlalu sering berlalu,namun tetap saja menjadi candu.
Inilah yang terjadi saat jarak memisahkan.
Kita tak bisa selalu dekat. Tak bisa saling menyentuh atau mendengar.
Namun,munajat selalu terhantar untuk segeranya perjumpaan.
Tak ingin menghitung waktu saat tanpa dirimu.
Setiap detik menjadi duri yang perlahan menusuk kalbu.
Kesepian selalu berulah. Menggelitik sanubari untuk menelisik imaji.
Semakin aku diam,semakin nyata bayang itu.
Menciptakan memori yang saling berkejaran di kepala.
Tak ingin terperangkap dalam kenyataan.
Nikmati saja,jalani saja. Dengan kesabaran tanpa kegelisahan.
Biarkanlah para pemerhati tertawa. Mereka takkan pernah mengerti karena tak ada di tempat yang kita pijak.
Tempat yang hanya kita ketahui.
Tempat yang kita namakan Penghujung Rindu.
Di penghujung rindu,raga kita bertemu.
Lepaskan pandangan tanpa jemu-jemu.
Untuk mengisi ruang yang kemarin semu.
Di sana,di kala langit sendu.
Di penghujung rindu,hati ini bicara.
Ungkapkan keindahan rasa yang lama tertahan.
Dalam lelahnya penantian dan manisnya pertemuan.
Selalu ada harapan akan tiadanya perpisahan.
Ya,di penghujung rindu.

0 komentar:
Posting Komentar