Dia telah beranjak,haluannya semakin jauh dari pandangan.
Senang melihatnya singgah,walau untuk sementara.
Dulu kita adalah sebuah cerita.
Kini tak lebih dari sekedar goresan di halaman yang berbeda.
Di saat semuanya terasa sempurna,saat itu pula semua terasa bias.
Aku yang tak ingin kehilangan, menggenggam rasa itu terlalu erat.
Menyakiti dia yang menanti jawab.
Apa yang pernah terajut asa,kini menghilang tak berbekas.
Membuang jauh rasa percaya,membuat waktu seakan sia-sia.
Kebodohan memang datang beriringan dengan ego manusia.
Ah,andai kedewasaan hadir lebih awal.
Dulu selalu ada tanya,apa yang menjauhkan kita.
Tapi apa arti jawabnya,bila tak merubah apa yang takdir putuskan.
Semuanya memang telah berbeda.
Seseorang yang tadinya pemerhati,kini saling tak peduli.
Seseorang yang tadinya penghapus sepi,kini hanya seseorang yang pernah aku kenali.
Dialah penyesalan.
Yang memenuhi hati ini dengan rasa sesak.
Tak peduli betapa ingin memutarnya,waktu tak akan bergeming di ruasnya.
Dialah penyesalan.
Yang memisahkan diri ini dari yang terindukan.
Membimbingnya melewati kepahitan untuk memahami rasa ikhlas.
Aku tak hidup dalam wajah penuh ratap.
Aku hanya tak ingin kembali berharap.
Di kehidupannya yang penuh kehangatan, aku hanya pelintas yang mencoba diperhatikan.
Semua membawaku pada kesadaran, bahwa aku memang tak pantas.
Semua air mata yang pernah tercurah.
Semua pengorbanan yang pernah tercipta.
Dan semua senyum yang pernah terurai.
Membimbingku pada satu suara.
Suara sang penyesalan.
Kini hanya tersisa kata maaf.
Kini bahagia yang sebenarnya telah kita saling temukan.
Jangan pernah lagi ada cerita tentang masa yang (harusnya) tak pernah ada.

0 komentar:
Posting Komentar