Bila kamu membaca ini, aku baik-baik saja menanti di masa lalu.
Bila kamu tak mengerti, anggap saja surat ini angin lalu.
Empat tahun ia membeku. Mengendap, dari debu jadi batu.
Iya, itu hatiku. Yang pernah kamu warnai dengan rasa rindu.
Selayaknya batu, ia tiada peka tak tersentuh.
Ia hanya menanti tanpa ada batas waktu.
Terlalu lamakah? Tidak.
Aku bukan orang yang resah mengingat status di media sosial.
Aku bukan orang yang resah mengingat status di media sosial.
Bukan berarti aku tak menjual.
Tapi Tuhan membiarkan aku meresapi kesan cinta yang pertama.
Tapi Tuhan membiarkan aku meresapi kesan cinta yang pertama.
Entah apa yang akan kukatakan jika kita diijinkan bertemu.
Mungkin aku akan menyapa, "Apa Kabar?"
Dan kamu hanya akan tersenyum simpul.
Atau mungkin aku jujur saja, "Kamu terlihat lebih gendut!"
Dan kamu akan menghajarku di depan umum.
Imajinasi ini semakin mengganggu.
Hingga aku lupa itu kata yang terlarang dalam kamusmu.
Aku tak peduli dengan siapa kamu kini mengayuh.
Karena rakit itu adalah kita yang menyusun.
Biarkan itu membantumu mencapai tujuan hidup.
Di seberang sana menjadi Ratu.
Bandung, empat tahun lalu menjadi saksi bahwa jarak bukanlah masalah.
Ia hanya derita.
Yang mengatakan kita mengisi masa muda dengan cerita indah.
Walau kenyataan tak pernah memihak.
Walau kenyataan tak pernah memihak.
Ini bukan suara penyesalan.
Hanya suatu bentuk kebebasan.
Kebebasan untuk berkata di depan orang yang pernah membuatku melakukan hal gila.
Melintasi dua kota hanya untuk bertemu di akhir pekan.
Sungguh suatu penyiksaan.
Hm..hanya bercanda.
Sudah ya. Sebelum aku menggali memori terlalu dalam.
Sudah ya. Sebelum aku menggali memori terlalu dalam.
Kamu tahu seberapa mudah aku tersesat dalam ukiran pensil baru.
Dari, yang pernah membuatmu tersenyum.

0 komentar:
Posting Komentar