Pages

Bila Kamu Membaca Ini

Bila kamu membaca ini, aku baik-baik saja menanti di masa lalu.
Bila kamu tak mengerti, anggap saja surat ini angin lalu.

Empat tahun ia membeku. Mengendap, dari debu jadi batu.
Iya, itu hatiku. Yang pernah kamu warnai dengan rasa rindu.
Selayaknya batu, ia tiada peka tak tersentuh.
Ia hanya menanti tanpa ada batas waktu.

Terlalu lamakah? Tidak.
Aku bukan orang yang resah mengingat status di media sosial.
Bukan berarti aku tak menjual.
Tapi Tuhan membiarkan aku meresapi kesan cinta yang pertama.

Hujan

Hujan,bawalah kenanganku pergi bersamamu.
Biarkan dia memudar seiring gelapnya awan yang terbentuk.
Dingin, kata mereka. Tapi, setidaknya lebih hangat dari masa lalu.

Celoteh sang kenari tak terdengar.
Mereka hanya meringkik sambil berlindung.
Tak apa menahan diri dari berkah alam.
Masih ada hari esok yang menunggu.

Suara Penyesalan

Dia telah beranjak,haluannya semakin jauh dari pandangan.
Senang melihatnya singgah,walau untuk sementara.

Dulu kita adalah sebuah cerita.
Kini tak lebih dari sekedar goresan di halaman yang berbeda.
Di saat semuanya terasa sempurna,saat itu pula semua terasa bias.
Aku yang tak ingin kehilangan, menggenggam rasa itu terlalu erat.
Menyakiti dia yang menanti jawab.