Bila kamu membaca ini, aku baik-baik saja menanti di masa lalu.
Bila kamu tak mengerti, anggap saja surat ini angin lalu.
Empat tahun ia membeku. Mengendap, dari debu jadi batu.
Iya, itu hatiku. Yang pernah kamu warnai dengan rasa rindu.
Selayaknya batu, ia tiada peka tak tersentuh.
Ia hanya menanti tanpa ada batas waktu.
Terlalu lamakah? Tidak.
Aku bukan orang yang resah mengingat status di media sosial.
Aku bukan orang yang resah mengingat status di media sosial.
Bukan berarti aku tak menjual.
Tapi Tuhan membiarkan aku meresapi kesan cinta yang pertama.
Tapi Tuhan membiarkan aku meresapi kesan cinta yang pertama.
