Pages

Bila Kamu Membaca Ini

Bila kamu membaca ini, aku baik-baik saja menanti di masa lalu.
Bila kamu tak mengerti, anggap saja surat ini angin lalu.

Empat tahun ia membeku. Mengendap, dari debu jadi batu.
Iya, itu hatiku. Yang pernah kamu warnai dengan rasa rindu.
Selayaknya batu, ia tiada peka tak tersentuh.
Ia hanya menanti tanpa ada batas waktu.

Terlalu lamakah? Tidak.
Aku bukan orang yang resah mengingat status di media sosial.
Bukan berarti aku tak menjual.
Tapi Tuhan membiarkan aku meresapi kesan cinta yang pertama.

Hujan

Hujan,bawalah kenanganku pergi bersamamu.
Biarkan dia memudar seiring gelapnya awan yang terbentuk.
Dingin, kata mereka. Tapi, setidaknya lebih hangat dari masa lalu.

Celoteh sang kenari tak terdengar.
Mereka hanya meringkik sambil berlindung.
Tak apa menahan diri dari berkah alam.
Masih ada hari esok yang menunggu.

Suara Penyesalan

Dia telah beranjak,haluannya semakin jauh dari pandangan.
Senang melihatnya singgah,walau untuk sementara.

Dulu kita adalah sebuah cerita.
Kini tak lebih dari sekedar goresan di halaman yang berbeda.
Di saat semuanya terasa sempurna,saat itu pula semua terasa bias.
Aku yang tak ingin kehilangan, menggenggam rasa itu terlalu erat.
Menyakiti dia yang menanti jawab.

Liburan di Rumah? Siapa Takut!


Alhamdulillah,waktu yang  ditunggu-tunggu telah tiba. LIBURAN! Abis semester yang melelahkan ini,akhirnya gue punya waktu buat ngelonjor di kamar dan bermanja-manjaan dengan kasur tercinta. "Wait,melelahkan? Lebay lo,di!" Well, bukan melelahkan secara fisik. Tapi melelahkan secara mental. Soalnya semester 2 ini ada beberapa dosen yang kurang asik menurut gue. Termasuk dosen yang ngasih 98% anak kelasan gw nilai C siang ini. But,udah dulu curhatnya. Sekarang gue mau bahas nasib orang-orang yang "kurang beruntung" di liburan ini.

Di Penghujung Rindu

Rinai hujan yang tak henti menemaniku terjaga.
Setiba pula seraut wajah baru saja melintas di batas angan.

Tergambar jelas wajah siapa itu.
Yang pendarannya menerangi tiap malam tanpa bintang.
Yang teranugerahi nada lembut pengisi kesunyian.
Yang mewakili tujuan senandung sepi ini.

Yang terindukan.

Datang untuk mengundang ragu dan pergi untuk menghapus pilu.
Itulah sifat rindu.
Walau sudah terlalu sering berlalu,namun tetap saja menjadi candu.