Aku hanya lelaki sederhana.
Tiada bermahkotakan harta,yang mengamanahkan tahta,pun mengagumi wanita.
Sebatang pensil dan secarik kertas menemaniku bercengkrama dengan bulan.
Tentang masa lalu yang kupunggungi. Tentang masa depan yang kutatap tajam.
Tiada dariku yang terumbar lepas,tiada pula yang tertutup rapat.
Aku berucap dengan sederhana.
Yang lantang untuk kebajikan,
yang pelan untuk rendahnya hati,
yang terputus untuk kekhilafan.
yang pelan untuk rendahnya hati,
yang terputus untuk kekhilafan.
Bukan berarti lidah ini kelu,bukan berarti ia tak pernah lancang.
Aku melangkah dengan sederhana.
Memijak takdirku sebagai khalifah di dunia.
Beriringan dengan waktu yang tak bisa terulang.
Berkejaran dengan angin yang membawa pesan kehidupan.
Mencari hakikat kebahagiaan tanpa pernah lelah.
Aku mencintai dengan sederhana.
Atas nama Tuhan yang menganugerahkannya.
Tanpa mawar,tanpa puisi,hanya sejumput asa.
Bersama niat ikhlas 'tuk memberi tanpa menerima.
Kepada yang terindah,yang mengajariku arti kata rindu.
Aku hanya satu dari sekian makhluk ciptaan-Nya.
Tiada sempurna.
Memujiku,aku angkuh.
Teracuhkan,aku sendu.
Menghinaku,aku rapuh.
Di setiap nafas yang masih ditiupkan-Nya,
di setiap detik yang berharga,
aku akan hidup.
Sebagai lelaki sederhana.
di setiap detik yang berharga,
aku akan hidup.
Sebagai lelaki sederhana.

0 komentar:
Posting Komentar