Sahabat Lamaku,berkutat dengan mimpi-mimpinya.
Menempuh perjalanan barunya sebagai seorang manusia dewasa untuk meraih cita-cita.
Meninggalkan seragam saat masa jaya,mengendurkan ikatan kebebasan bertingkah laku tanpa khawatir akan pengawasan guru.
Sudah lama..
Ya,sudah cukup lama kita terpisah.
Kita memilih jalan yang berbeda,namun selalu kuberusaha menjaga tali persahabatan yang dulu kita rajut.
Ruang dan waktu yang terbentang antara kita tak akan mengurangi rasa kebersamaan yang dulu kita banggakan.
Kadang,aku bertanya..
Masih tahukah kau seperti apa ruang kelas tempat kita mengumpulkan ilmu dan berbagi keceriaan?
Bisakah kau ingat senyuman terakhir yang kutujukan kepadamu?
Pernahkah kau dengarkan lagi lagu yang dahulu sering kita nyanyikan bersama?
Akankah kau terhenyak di setiap tanggal yang sama saat kita berteriak "LULUS!!!"?
Masa-masa itu memang tak akan bisa terulang.
Namun,kita pernah berjanji untuk tidak akan mengucapkan "Selamat Tinggal.."
Ucapkanlah saja "Sampai bertemu lagi.." saat kita berpisah.
Karena kuyakin,dan selalu kupercaya bahwa kita akan bertemu lagi.
Terlalu banyak hal yang ingin kuceritakan,
namun begitu sedikit waktu yang kita miliki.
Untaian kata mengitari khatulistiwapun rasanya tak akan cukup menghabiskannya.
Keheningan yang memisahkan kita tidak berarti kesombongan mengotori jiwa ini.
Aku hanya berpesan..
Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi,jangan bertanya "Apakah aku merindukanmu?",karena namamu selalu melekat dalam dinding hati ini.
Jangan bertanya "Mengapa aku tidak pernah menghubungimu?",karena sesungguhnya keterbatasan waktu yang kumiliki tidak pernah bisa menghapus kenangan akan masa-masa saat kita bersama.
Ungkapkan saja apa yang telah kita lalui. Apa yang telah kita lewati dalam episode kehidupan kita,teman. Dan,disanalah kita akan menyadari,betapa berartinya kau dan aku dalam perjalanan kedewasaan kita masing-masing.
Saat aku berkata "Aku lelah.",itu menandakan bahwa aku membutuhkan sandaran yang bisa kupercaya. Disaat itulah aku membutuhkan bahumu,sahabat..Bahu yang sama yang membuatku nyaman dalam kegalauan masa remajaku.
Saat aku berkata "Aku tak akan bisa.",berarti aku membutuhkan seseorang untuk memberiku tempat berpijak dan mendorongku sampai ke garis akhir. Di saat itulah aku membutuhkan kata-kata sederhana nan ajaib yang selalu bisa kauberikan untuk menyemangatiku seperti saat aku mencurahkan isi hatiku di masa lampau.
Dan,ketika kau mulai merubah sikapmu dan tidak membalas pesan-pesanku,
aku bisa memakluminya.
Aku akan berkata,"Kau pasti sedang dalam pendakian menuju puncak impianmu sehingga tidak bisa mendengarku. Akupun begitu."
Tiada rasa curiga,yang ada hanyalah doa yang tulus untuk kebaikan kita semua.
Namun,akan ada suatu saat dimana kita akan berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Mengenang,mentertawakan,bahkan mengulangi hal-hal bodoh yang dulu pernah kita lakukan.
Saat itu adalah saat dimana kita telah mencapai puncak impian masing-masing,seperti yang selalu kau dan aku ceritakan saat kita berbincang tentang masa depan.
Maka,hingga saat itu tiba,jangan menyalah artikan saat ku menyebutmu "Sahabat Lama". Karena sesungguhnya itu bukan berarti kau adalah sahabat yang dulu pernah singgah dalam hidupku. Namun kau adalah Sahabat yang telah Lama berada,dan akan terus ada di dalam memori kehidupanku.

0 komentar:
Posting Komentar