Cinta pernah datang,dan ia telah pergi.
Semudah kejapan mata dan seketika terenggut masa.
Mengapa? Ada apa?
Apakah ini jenuh? Apakah aku angkuh? Apakah kita jauh?
Tak terangkai oleh kata waktu yang terlintasi.
Tak terungkap oleh lisan apa yang terjadi.
Tapi,haruskah aku peduli?
Ia pernah berkata,"yang terjadi,terjadilah"
Usah kau risaukan dalam renungan tak berarti.
Karena,jauh di dalam sana,aku pastikan,tiada niat menyakiti.
Ya,mungkin naluri yang bermain. Mengelabui akal dan tak menghiraukan rasa.
Harapan membawa khayalanku akan keabadian bersamamu.
Ah,bodohnya. Tidakkah pernah kusadari,siap mencintai berarti siap pula untuk patah hati,kan?
Namun,tetap saja aku tak percaya semua ini harus berakhir.
Kadang terlintas di benakku.
Saat aku terdiam tak memahami,apakah kau mengingat wajah ini?
Saat aku tenggelam dalam sunyi,apakah kau bersamanya saling memandangi?
Saat kucoba tuk berlari,apakah kau melangkah beriringan dengan yang lebih baik?
Terlalu banyak tanya,yang akupun tak ingin tahu jawabannya.
Ya,baiklah.
Di setiap penghujung malam,selalu ada kehangatan mentari.
Di setiap akhir hujan,selalu ada pelangi.
Dan di setiap lamunan,inilah intisari.
Naif bila aku berkata dunia telah berakhir.
Bukankah keluargaku adalah penjaga hatiku yang sejati?
Pelukan sahabat tak pernah gagal meredakan air mata yang menitik.
Tak peduli sedalam apa sesal itu,yang terbaik selalu datang seiring tulusnya doa.
Aku memiliki semua yang kubutuhkan untuk bahagia.
Aku masih,dan selalu bisa menjadi hebat.
Bahkan tanpamu.
Luka ini memedihkan mata,menyesakkan jiwa.
Tapi,hanya untuk sementara.
Tuhan tak pernah menciptakan makhluk yang lemah! Ia tak pernah memberi ujian tanpa menjanjikan hikmah. Dan,untuk masa depan yang (pasti) lebih cerah,aku ingin dunia tahu,
"Aku tak serapuh yang kau kira"

0 komentar:
Posting Komentar